Tak Berkategori

Unik! 10 Upacara Adat Maluku Yang Bagus Untuk Dinikmati

Pinterest LinkedIn Tumblr

Wilayah Maluku yang terletak di wilayah timur Indonesia, dihuni berbagai macam suku bangsa. Oleh sebab itu, bisa dikatakan, Maluku memiliki bergama budaya yang patut untuk dipelajari.

salah satunya adalah tentang upacara adat Maluku, yang memiliki banyak keberagaman serta tetap dilestarikan hingga sekarang. Nah, berikut ini adalah rangkuamn dari upacara adat Maluku tersebut.

Rangkuman Upacara Adat Maluku

1. Aturan Adat Sasi

Sasi merupakan peraturan adat yang dijalankan di hampir semua di wiayah Maluku, seperti Seram, Ambon, Halmahera, dan sebagainya. DAlam aturan ini, siapapun dilarang untuk memanen hasil alam jika belum waktunya, baik hail laut maupun hasil pertanian.

Adat ini bertujuan agar setiap datang waktunya panen, hasil alam tersebut bisa dipanen bersama-sama, sehingga hasil dari kerja keras yang selama ini dilakukan benar-benar terasa. Tradisi ini sudah dilakukan secara turun-temurun hingg asekarang.

2. Obor Pattimura

Masyarakat Maluku selalu mengingat tanggal 15 sebagai hari di mana Pattimura memimpin perlawanan penduduk Maluku terhadap penjajah. Sehingga, di tiap tanggal 15 Mei ini selalu diperingati sebagai Hari Pattimura.

Dalam peringatan ini, pemerintan dan masyarakat biasa mengadakan prosesi adat pawai obor. Pawai ini dilakukan dengan lari obor, diawali dari Pulau Saparua lalu menyebrang ke Pulau Ambon, dan diarak ke Kota Ambon sepanjang 25 km.

3. Tradisi Pataheri

Adat Pataheri adalah tradisi yang dimiliki Suku Naulu, yang tinggal di sekitar wilayah tengah-selatan Pulau Seram. Secara umum, penduduk ini berpegang teguh dengan keyakinan tradisional yang ditunrunkan dari para leluhur.

Salah satunya adalah, yang tak lazim, yakni perempuan-perempuan yang sehabis melahirkan ataupun sedang haid diasingkan keluar rumah. Selain itu, ada juga ritual pemenggalan kepala manusia, yang diadakan sebagai persembahan.

Pataheri sendiri, merupakan tradisi yang diberlakukan kepada anak laki-laki menjelang dewasa, di mana mereka mesti memakai ikat kepala warna merah yang dibuat dari benang. Untuk memakainya, seorang anak laki-laki harus memenuhi syaratnya terlebih dahulu, yakni dengan memenggal kepala orang lain.

Kini, tradisi yang sangat mengerikan ini sudah ditinggalkan, paling tidak sejak tahun 1900-an. Sebagai gantinya, seorang anak laki-laki hanya perlu memotong hewan kuskus saja.

4. Tradisi Masa Kehamilan Suku Naulu

Tradisi yang tak lazim lagi dari Suku Naulu adalah budaya pengasingan perempuan hamil. Umumnya, wanita-wanita ini akan ditempatkan dalam gubuk yang dinamakan Tikusune, yang lokasinya cukup jauh dari rumah.

Wanita tersebut akan ditinggalkan sendirian di gubuk. Sampai waktunya ia melahirkan, akan dibantu oleh seorang dukun beranak. Lalu, ibu dan anak harus dimandikan terlebih dahulu sebelum pulang. Sementara, sebelum menyambut kedatangan itu, pihak keluarga mesti berpuasa penuh seharian.

Umumnya, dalam penyambutan, keluarga akan mengadakan acara jamuan bersama masyarakat. Sebenarnya, tadisi ini bukan hanya berlaku bagi perempuan hamil, sebab para wanita yang haid juga melakukannya.

Budaya lokal semacam ini memang lazim di Maluku. Karena memang, tiap daerah memiliki kearifannya sendiri. Kamu pun bisa menemukan banyak ulasan mengenai kearifan budaya lokal lainnya di Selasar.com. Misalnya adalah pembahasan mengenai Tari Merak.

5. Pela Gandong

Pela Gandong merupakan tradisi dari masyarakat Maluku Tengah, yang tetap dijalankan hingga sekarang. Tradisi ini adalah berupa pengambilan janji untuk mengangkat persaudaraan antar negeri atau wilayah.

Umumnya, pada saat upacara pengambilan sumpah, pemimpin dari tiap-tiap negeri akan meminum campuran Sopi (tuak Maluku) dan darah dari tubuh mereka masing-masing. Sebelum diminum, senjata tajam masing-masing juga dicelupkan ke dalam air tersebut.

Dengan adanya perjanjian ini, maka tiap wilayah yang terikat di dalamnya, wajib saling membantu. Terutama sekali jika dalam kondisi genting, seperti bencana alam atau perang. Dalam hal ini sikap tolong-menolong diberlakukan, layaknya seorang saudara .

6. Makan Patita

Makan Patita merupakan tradisi kuliner yang masih dijalankan hingga sekarang. Tujuan dari ritual adat ini adalah untuk mempererat rasa kekeluargaan, dengan mengadakan pesta makan bersama secara massal.

Sajian yang dihidangkan adalam Makan Patita, biasanya berupa makanan tradisional setempat. Seperti sagu, kohu-kohu (urap Maluku), kasbi (singkong), colo-colo, pisang rebus, ikan, dan papeda.

Umumnya, upacara Makan Patita diadakan pada peringatan hari-hari penting. Seperti hari jadi desa, hari jadi masjid atau gereja, serta hari dirgahayu kota dan provinsi. Terkadang, tradisi ini juga dilakukan antar marga dan keluarga.

7. Timba Laor

Tiba Laor merupakan tradisi berburu cacing laut yang diadakan oleh penduduk di Ambon. Kebudayaan yang satu ini, biasanya cuma diadakan sekali dalam setahun, yakni saat bulan purnama di bulan Maret atau April.

Setelah cacing laut ditangkap, kemudian hewan tersebut akan dimasak dan disantap bersama. Prosesi ini diadakan di beberapa daerah, misalnya Desa Latulahat di Kecamatan Nusaniwe, Desa Hukurila dan Rutong di Kecamatan Leitimur Selatan serta di Pantai Air Low dan Pantai Latulahat.

8. Cuci Negeri

Tradisi Cuci Negeri dilakukan sebagai penghormatan kepada para leluhur. Umumnya, ritual ini diadakan dengan cara membersihkan tempat-tempat yang diyakini sebagai lokasi sakral.

Tak hanya itu, dalam tradisi ini juga akan dibawa seserahan berupa pinang dan sirih oleh kaum perempuan. Serta dibawa juga minuman Sopi, yakni minuman khas dari wilayah setempat.

Dalam ritual yang biasanya diadakan tanggal 27-29 Desember ini, sebagian orang akan minum Sopi dan makan Pinang dan sirih yang telah dibawa. Sedangkan, sebagian yang lain akan bernyanyi lagu adat dengan iringan tabuh-tabuhan tifa sampai kegiatan selesei.

9. Abdau dan Kaul

Abdau dan Kaul merupakan budaya yang dijalankan sejak tahun 1600-an Masehi, di mana acara ini dilakukan rutin saat Idul Adha tiba. Kegiatan yang diadakan di Negeri Tulehu, Maluku Tengah ini, biasanya berupa pertunjukan, atraksi, dan parade budaya.

Acara Kaul Kuraban atau pemotongan hewan qurban, adalah acara inti dalam tradisi ini. Daging hewang kurban akan dibagi-bagi kepada fakir miskin serta orang -orang yang berhak mendapatkannya menururt syariat Islam.

10. Tihi Huau

Tihi Huau merupakan tradisi yag dijalankan Suku Naulu. bagi masyarakat setempat, anak laki-laki ataupun perempuan diyakini mudah disusupi pengaruh roh jahat. Sheingga, tradisi Tihi Huau diadakan sebagai ritual agar anak terhindar dari keburukan tersebut.

Tak hanya itu, dalam acara ini juga, diharapkan supaya sifat buruk yang dimiliki orang tua, tidak turun kepada anak, sehingga jika kelak dia dewasa akan tumbuh menjadi orang yang baik.

Ritual ini dilakukan dengan cara memotong rambut anak. Sebab, masyarakat setempat meyakini, rambut manusia punya kekuatan magis terhadap roh-roh jahat.

***

Demikianlah itu tadi, pemaparan tentang upacara adat Maluku. Semoga artikel ini memberi manfaat bagi pembaca semua.

Write A Comment